Home » Kanker » Apa Saja Gejala dan Penyebab Kanker Getah Bening?

Apa Saja Gejala dan Penyebab Kanker Getah Bening?

Published On: February 4th, 2022/Categories: Kanker/2.7 min read/

Kanker getah bening atau limfoma adalah kanker yang menyerang sistem limfatik. Sistem limfatik merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh dalam melawan bakteri atau virus yang dapat menyebabkan infeksi. Karena kelenjar getah bening terletak di seluruh tubuh, efek dari kanker dapat berisiko menyebar ke organ lain.

Limfoma memiliki banyak tipe, namun dikelompokkan ke dalam dua kategori besar yaitu limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin. Limfoma juga tidak sama dengan limfedema, yaitu kumpulan cairan yang terbentuk di jaringan tubuh ketika terjadi kerusakan atau penyumbatan pada sistem getah bening.

Gejala Kanker Getah Bening

Gejala yang paling mudah dikenali adalah munculnya benjolan pada tubuh yang bisa terjadi di area mana saja, namun pada umumnya terjadi di bagian leher, ketiak, atau selangkangan.

Seringkali benjolan ini merupakan satu-satunya tanda yang tidak disadari penderita. Hal ini disebabkan karena benjolan yang muncul tidak selalu menandakan kanker getah bening, bisa jadi karena infeksi organ lain atau efek dari konsumsi obat-obatan.

Kanker dan infeksi getah bening merupakan dua kondisi yang berbeda meskipun memiliki gejala yang sama. Dikutip dari BNI Life, pada infeksi getah bening muncul benjolan yang terasa lunak dan nyeri ketika disentuh, sedangkan benjolan pada kanker akan terasa keras dan tidak sakit ketika disentuh.

Namun ketika Anda merasakan adanya benjolan, sebaiknya segera periksakan ke dokter untuk mendapat perawatan yang pasti agar tidak terlambat teridentifikasi dan semakin memburuk.

Selain benjolan, gejala lainnya yang menyertai dan patut Anda waspadai adalah:

  • Batuk
  • Sesak napas
  • Demam
  • Berkeringat di malam hari
  • Kelelahan
  • Penurunan berat badan
  • Gatal

Baca Juga: Benarkah Makanan Berpengawet Menyebabkan Kanker?

Penyebab Kanker Getah Bening

Kanker getah bening terjadi ketika DNA sel limfosit mengalami perubahan (mutasi) dan berkembang secara tidak normal, sehingga jumlah sel semakin banyak dan menyebabkan kelenjar getah bening membengkak. Penyebab dari kanker hingga saat ini masih belum bisa dipastikan.

Baik limfoma Hodgkin maupun non Hodgkin bukanlah penyakit yang menular dan diperkirakan tidak diturunkan dalam keluarga, namun Anda bisa memiliki risiko yang lebih besar jika salah satu keluarga inti Anda menderita penyakit ini.

Dikutip dari NHS UK, ada sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko Anda terkena limfoma, tergantung dari jenisnya. Faktor risiko dari limfoma Hodgkin adalah:

  • Usia 20-40 tahun atau di atas 75 tahun
  • Jenis kelamin laki-laki
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah seperti pengidap HIV, atau efek obat-obatan yang melemahkan sistem kekebalan tubuh
  • Memiliki riwayat terkena virus Epstein-Barr (EBV)
  • Pernah menderita limfoma non-Hodgkin
  • Obesitas, lebih berisiko pada wanita
  • Merokok

Sedangkan faktor risiko limfoma non Hodgkin adalah:

  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah seperti pengidap HIV, atau efek obat-obatan yang melemahkan sistem kekebalan tubuh
  • Memiliki riwayat terkena virus Epstein-Barr (EBV)
  • Autoimun (kondisi yang disebabkan oleh masalah dengan sistem kekebalan tubuh), seperti rheumatoid arthritis, lupus atau sindrom Sjögren
  • Memiliki riwayat terinfeksi human T-cell lymphotropic virus (HTLV)
  • Memiliki riwayat terinfeksi Helicobacter pylori yang biasanya menyerang lambung dan usus kecil
  • Pernah menjalankan kemoterapi atau radioterapi kanker
  • Memilik riwayat penyakit celiac atau reaksi terhadap gluten yang menyebabkan radang usus kecil

Menerapkan pola hidup yang baik dapat meningkatkan kesehatan tubuh dan lebih berpeluang untuk mencegah berbagai penyakit.

Namun perlu diingat bahwa memiliki satu atau lebih faktor risiko di atas tidak berarti Anda pasti akan terkena penyakit ini di kemudian hari. Di sisi lain, seseorang dengan kanker kelenjar getah bening pun mungkin memiliki penyebab atau faktor risiko yang tidak diketahui.

Namun, jika Anda mengkhawatirkan faktor risiko tertentu, tidak ada salahnya untuk menanyakan kondisi Anda kepada dokter.

Bagikan artikel ini:

Related Post

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.