founder mymeal catering

founder mymeal catering

Sebagai orang Timur, Anda tentu senang makanan berbumbu. Asyiknya, kini makin banyak acara kuliner di TV yang memberi panduan mencari makanan yang “maknyus”. Celakanya, hampir semua makanan menggunakan vetsin (monosodium glutamat, MSG). Menurut survei YLKI, satu porsi mi goreng bisa mengandung 3,4 gram MSG. Padahal, dokter menyarankan konsumsi MSG per hari paling banyak 120 miligram per kilogram berat badan per hari pada orang dewasa.

BARU !! LIAT VIDEO MY MEAL di YOUTUBE Klik disini

Menurut literatur, orang yang terlalu banyak mendapat asupan MSG bisa mengalami “chinese restaurant syndrome” dengan gejala dada panas, sesak napas, mual, sakit kepala, dan dalam jangka panjang bisa mengakibatkan penyakit serius, seperti hipertensi. Soal penamaan sindrom tadi, diduga akibat MSG yang banyak terkandung dalam masakan Cina di era 1960-an, saat penyakit tersebut ditemukan pertama kali.

Beruntung, kini komunitas yang “sadar makanan” makin banyak. Dalam kesehariannya, mereka menghindari makanan yang terlalu banyak mengandung garam, gula, juga vetsin, dan sebisa mungkin menggunakan bahan organik. Melihat fenomena ini, Ignatius Zaldy, pengusaha yang semula berbisnis alat kesehatan, kini beralih menyediakan jasa katering sehat. Ia menjamin makanan yang disajikannya memakai bahan baku organik dan selalu fresh penyajiannya. “Katering My Meal hanya untuk orang yang ingin sehat,” tegasnya.

Tidak Tanggung dalam Berbisnis

“Di luar negeri, dokter menyarankan kepada pasien untuk memakai jasa katering setelah sembuh dari sakit,” kata Zaldy, suatu siang. Ini agar penyakit yang diderita si pasien tak kambuh akibat pola makan yang salah. Kenyataan ini sungguh berbeda dengan di Indonesia. Dokter di Indonesia gemar memberi sederet pantangan makanan. Zaldy masih ingat, saat ia baru keluar dari rumah sakit setelah dirawat karena hipertensi, Lynda (Ting Ling Sien), sang istri, harus memasak dua versi makanan. Satu untuk Zaldy, satunya lagi untuk seluruh anggota keluarga. Sungguh merepotkan.

Oleh karena bisnis Zaldy dulunya adalah penjual alat kesehatan, ia lalu bertukar pikiran dengan pegawai Departemen Kesehatan, dokter, dan pasien yang kebetulan ditemuinya di rumah sakit. “Ternyata, banyak yang memiliki pengalaman seperti saya,” kenang pria asal Tangerang ini. Hasil obrolan ringan itu lalu ia sampaikan kepada sang istri yang ahli memasak. Maka, tercetuslah ide membangun jasa katering makanan sehat. Linda berpendapat makanan sehat bukan berarti tak enak. “Semua makanan bisa dibuat enak, tak terkecuali menu khusus untuk orang yang punya banyak pantangan,” tutur Zaldy, menirukan kata-kata istrinya.

Selama enam bulan Zaldy dan Linda menajamkan konsep bisnis katering. Sebagai pembeda dengan katering makanan sehat lainnya, My Meal hanya menyajikan makanan berbahan baku organik, tanpa zat-zat tambahan lain, termasuk MSG, pengawet, maupun pewarna. Akhirnya, pada Januari 2006, bisnis yang berbasis di kawasan Gading Serpong, Tangerang, ini resmi beroperasi. “Oleh karena belum punya jaringan dengan petani organik, di awal pendirian saya harus memborong sayur, beras, daging, dan bumbu dapur organik di supermarket ,” ungkap lulusan teknik elektro dari Universitas Trisakti ini, diiringi derai tawa. Kini, lemari penyimpanan bahan baku My Meal Catering  ini penuh dengan pasokan dari penyedia bahan baku organik.

Zaldy selalu menerapkan prinsip “jangan tanggung-tanggung dalam berbisnis”. Saat memulai usaha, ia membobol tabungan senilai Rp400 juta. Separo untuk membeli alat bioscan guna mengukur kondisi fisik seseorang, seperti massa tubuh, kadar air, lemak, dan protein. “Saya pernah berjualan alat canggih itu, jadi tahu manfaatnya,” tegas ayah dua anak ini. Adapun sisanya digunakan untuk membeli peralatan memasak, alat takar digital, dan perangkat lunak untuk mengukur angka kecukupan gizi dalam seporsi makanan.

Zaldy mengakui bisnis ini adalah bisnis kepercayaan. Sebab, konsumen awam belum tentu bisa membedakan rasa antara makanan organik dan non-organik. Namun, kalau sudah biasa, pasti terasa bedanya. Ia lalu merujuk kemampuan lidah masyarakat modern yang makin peka, terutama bisa merasakan adanya tambahan MSG. Agar manfaat sayur organik terjaga, My Meal begitu peduli pada urusan pengolahan makanan. Mereka hanya mengirimkan makanan yang baru dimasak (fresh) ke pelanggan.

Setelah makanan matang, pihak katering akan menyediakan jasa antar sesuai jadwal makan pelanggan, tanpa memungut biaya tambahan. Untuk paket tiga kali makan, si delivery man akan mulai mengantar pada pukul 06.00, 10.00, dan 16.00. Waktu sampainya tentu tergantung jarak, bisa 1–2 jam. Menurut Zaldy, makanan yang penyajiannya berselang lama dari waktu memasaknya akan berkurang kenikmatannya. Selain itu, proses penghangatan akan mengurangi kadar vitamin. Maka dari itu, My Meal akan menolak jika ada calon konsumen yang tempat tinggalnya terlalu jauh seperti Bekasi Timur , Bogor.*(sejak 2011 mymeal sudah menjangkau area tsb)

Oleh karena bisnis kateringnya diperuntukkan bagi orang sakit yang ingin sehat, Zaldy berusaha menonjolkan unsur personalized. My Meal benar-benar memasak porsi per porsi. Alasannya, tiap orang pasti membutuhkan asupan makanan yang berbeda, meski penyakitnya sama. “Memang merepotkan, tetapi inilah konsep sehat yang saya tawarkan,” tegas pria kelahiran  Juli 1971 ini. Kendati demikian, pelanggan bisa memesan menu favorit. Selama ahli gizi menyetujui, seporsi makanan favorit tadi akan tersaji keesokan harinya.

Tidak seperti perusahaan lain yang mengejar target pelanggan, My Meal kini mematok 100 pelanggan setiap bulan. Tujuannya agar katering fokus. Jika dalam satu bulan ada lebih dari 100 konsumen yang minta dilayani, mereka harus masuk daftar tunggu (waiting list). Nah, tiap ahli gizi akan memantau makanan yang diasup 25 pelanggan. Mereka ini yang akan memastikan pelanggan mendapatkan gizi yang sesuai, menjauhi pantangan, dan memakan tiap porsi yang dihidangkan.

Menu Italia

Untuk memulai berlangganan, calon konsumen cukup menelepon pihak katering. Selanjutnya, mereka akan mengirim lembar kuesioner lewat faks, e-mail, atau surat yang dibawa kurir. Di lembar kuesioner itu calon pelanggan bisa memilih menu yang disukai. Setidaknya ada 1000 menu makanan sehat yang tersusun rapi di dalam komputer perusahaan. Ragam menu bervariasi, mulai dari makanan tradisional Indonesia, Thailand, Cina, hingga Italia. Sehari setelah konsumen melakukan pembayaran, My Meal akan mengirim ransum makanan dan ahli gizi ke rumah pelanggan. Si ahli gizi ini akan memeriksa kondisi kesehatan pelanggan dengan bioscan. “Pelanggan bisa berkonsultasi langsung dengan ahli gizi,” papar Zaldy.

Setiap 2 minggu, ahli gizi akan bertandang ke kediaman pelanggan untuk mengecek kondisi kesehatan mereka. “Kami harus memastikan apakah konsumen disiplin dalam mengonsumsi makanan atau tidak. Percuma mereka membayar mahal jika pola makan tetap tidak teratur,” kata Zaldy.

Sulung dari empat bersaudara ini mengaku tak gentar jika pelanggan hanya menggunakan jasanya untuk satu bulan. “Tak ada orang yang ingin sakit berlama-lama,” kata dia, sembari tersenyum. Agar pelanggan tetap bisa menikmati makanan sehat, Zaldy rela membagi resep dan memberi pelatihan memasak singkat bagi i pelanggan. Karena tujuan My Meal adalah membuat pelanggan bisa sehat dan memiliki kebiasaan dan kemampuan menjalan pola makan sehat selamanya. Selain itu, My Meal juga menyediakan layanan untuk prasmanan , pesta , arisan, katering sekolah, dan katering Rumah Sakit.

Saat ini My Meal Sudah berjalan di tahun ke 2, di tahun pertama Zaldy sudah mulai memetik hasil. Selain itu, jumlah pelanggannya juga meningkat. Bahkan di tahun ke 2 , sudah membuka cabang ke duanya di Sudirman Jakarta. Bahkan, artis Titi DJ, Sandra Dewi senang dan puas dengan makanan dan pelayanan kateringnya. Ke depan, Zaldy berangan-angan melebarkan sayap hingga tataran regional.

Zaldy memiliki visi jauh ke depan. Saat orang lain belum terpikir untuk melakukan sesuatu, ia sudah bisa mencium peluang bisnisnya. Ia sosok yang energik dan berani mengambil keputusan, tetapi dengan penuh perhitungan serta tidak sembrono.  Sofian

Website : www.mymealcatering.com

Sumber : WartaEkonomi.Com
Edisi : Kamis, 20 Desember 2007
Reporter : ARIWINDYANINGRUM