Makanan sehat yang disediakan mencapai 100 menu. Tak hanya menyajikan makanan sehat, Mymeal juga didukung 13 ahli gizi yang siap melakukan cek nutrisi di rumah pelanggan. Wow!
SADAR atau tidak, dalam dua dekade terakhir, kita hidup dalam dunia serba instan. Segalanya ingin serba praktis dan cepat. Begitu pula dalam hal makanan. Kesibukan kerja kini membuat masyarakat, utamanya yang tinggal di perkotaan, banyak yang meninggalkan budaya masak. Mereka lebih mengandalkan restoran cepat saji.

Tapi justru di situlah letak persoalannya. Makanan cepat saji belum tentu dijamin sehat. Terlalu banyak bahan kimia yang terkandung dalam olahan makanan cepat saji sekarang ini.

Kehidupan serba instan juga merambah dunia pertanian dan perternakan. Dipicu ingin cepat panen dengan hasil melimpah, para petani lebih mengandalkan pupuk kimia ketimbang pupuk organik. Bagi peternak, idem dito. Mereka lebih mengandalkan pakan yang terbuat dari unsur kimia ketimbang organik supaya ternaknya bisa cepat tumbuh, besar, dan cepat bertelur bagi ternak unggas. Pelan namun pasti, aneka penyakit mulai mengintai kehidupan masyarakat.

Kini, di zaman serba canggih, mencari makanan sehat terasa begitu sulit. Bahan makanan organik kini jadi barang yang langka di perkotaan. Lantas, masih bisakah kita mengonsumsi makanan sehat tanpa harus direpotkan dengan memasak dan meninggalkan rutinitas kerja?

Jawabannya, bisa. Belakangan ini banyak berdiri perusahaan katering yang menyajikan makanan sehat. Salah satunya adalah Mymeal, sebuah katering makanan sehat yang didirikan tahun 2005 silam. Perusahaan katering makanan sehat yang berkantor pusat di kawasan Tangerang, Banten ini menyediakan sekitar 100 menu makanan sehat. Konsumennya beragam, mulai dari bayi hingga lanjut usia (lansia).

“Mymeal didirikan dengan tujuan antara lain membantu masyarakat untuk menjadi lebih sehat dengan mengonsumsi makanan sehat, terutama bagi mereka yang tengah mengalami masalah kesehatan,” ujar Ignatius Zaldy, Presiden Direktur Mymeal saat ditemui Farmacia di kantornya di Tangerang belum lama ini.

Sebelum membuka usaha katering makanan sehat, Zaldy bergelut di dunia alat-alat kesehatan (alkes). Kok banting stir? Pembukaan usaha katering Mymeal bertolak dari pengalaman pribadi Zaldy. Bermula ketika dirinya mengalami hipertensi. Sejak itu, ia harus memperhatikan dan menjaga asupan makanan. “Istri saya sampai banyak membaca buku menu sehat bagi hipertensi karena ingin menyajikan menu sehat bagi saya. Namun di pihak lain, istri juga mesti memasak menu makanan untuk dirinya sendiri dan anak-anak. Menu makanan untuk saya dan keluarga, berbeda. Kayaknya kok ribet,” tambah Zaldy.

Zaldy yakin, keribetan itu dialami banyak orang. Pengalaman pribadi itu lah yang melecut Zaldy untuk mendirikan usaha katering makanan sehat berlabel Mymeal, tujuh tahun silam. Dalam mengolah aneka masakan sehatnya, Zaldy mengaku perusahaannya menggunakan bahan organik sebesar 80%, tanpa pengawet, dan tanpa MSG. Bak gayung bersambut, usaha katering makanan sehat itu banyak diminati masyarakat.

Diakui Zaldy, menu makanan sehat yang disajikan kepada konsumennya benar-benar personal, sesuai dengan kebutuhan dari masing-masing pelanggan. Misalnya saja untuk hipertensi berarti makanannya harus kurang garam, diabetes kurang gula, dan sebagainya.

Uniknya, dalam menyajikan katering makanan sehat ini, Zaldy yang dibantu 13 ahli gizi tak sekadar membuatkan menu dan mengantarkan kepada konsumennya tiga kali dalam sehari, namun dilakukan juga pemantauan cek nutrisi dua minggu sekali dengan menghadirkan ahli gizi ke rumah para pelanggannya. “Tujuan utama kami adalah membantu mengajak konsumen untuk memiliki pola hidup sehat dan kemudian bisa mengolah bahan makanan sehat sendiri,” kata Zaldy.

Pelanggan Mymeal biasanya bertahan satu hingga dua bulan. Setelah itu tidak lagi berlangganan lantaran sudah mengetahui pola makan dan pola hidup sehat yang diterapkan selama mengikuti katering. Namun begitu, tidak sedikit juga yang menjadi pelanggan setianya lantaran tidak ada yang bisa memenuhi kebutuhan makan sehatnya.

Zaldy mengakui bahwa mengonsumsi makanan sehat ini tidaklah murah. Dia menyediakan beragam paket yang bisa dipilih konsumennya, dengan biaya mulai dari Rp5,5 juta/bulan. Menurut Zaldy, konsumennya berasal dari aneka kalangan usia, mulai dari bayi, balita, hingga manula. Untuk konsumen bayi, biasanya mereka yang sedang mengalami alergi atau gangguan pencernaan. Sementara untuk dewasa biasanya dimulai dari usia 35 tahun ke atas dan rata-rata usai menjalani perawatan kesehatan di rumah sakit dan memiliki penyakit tertentu seperti hipertensi, diabetes, jantung, asam urat, ginjal, dan ragam penyakit lainnya.

Setiap masak, Mymeal bisa mengolah 50-100 menu yang berbeda tergantung dari kebutuhan konsumen dan penyakit yang dideritanya. Pihaknya juga berusaha memenuhi keinginan menu dari pelanggan dan disesuaikan angka kecukupan gizi dan disesuaikan penyakit yang diidapnya. “Makanan kami bukanlah sebagai obat sehingga konsumen perlu mengonsumsi obat selama makan makanan sehat kami, namun kami hanya mendampingi dan membantu menurunkan kadar sakit yang dialami dengan mengatur pola makan. Seperti diabetes, dengan mengonsumsi makanan sehat, maka perlahan tapi pasti kadar gulanya bisa kembali normal,” urai Zaldy.

Selain melayani katering tiga kali dalam sehari, Mymeal Zaldy juga melayani katering di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta Pusat, serta melayani katering perusahaan untuk menu makan siang, serta melayani menu bagi mereka yang mengalami obesitas. Saat ini Mymeal tersebar di empat wilayah yakni di Tangerang, Jakarta Pusat, Cibubur, dan Semarang. F ncs

Seperti tercetak di Majalah Farmacia Edisi Juni 2012 , Halaman: 60 (24 hits
http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=2573